INKAI Pontianak Benahi Organisasi dan Perkuat Sistem Pembinaan Atlet

 

Caption. 
Ketua INKAI Kota Pontianak, Heriyadi, S.E., M.E dan 
Wakil Ketua INKAI Kota Pontianak, Kadar Usman, S.E.,saat di wawancara. Foto. (Ist) 
PONTIANAK — Pengurus Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) Kota Pontianak berkomitmen memperkuat organisasi sekaligus membenahi sistem pembinaan atlet karate secara berkelanjutan.Langkah tersebut dilakukan mulai dari mengaktifkan kembali ranting-ranting yang belum berjalan optimal hingga memperbaiki sistem kepelatihan dan pembinaan atlet berdasarkan tingkatan serta potensi masing-masing karateka.

Ketua INKAI Kota Pontianak, Heriyadi, S.E., M.E., mengatakan penguatan organisasi menjadi salah satu langkah penting apabila INKAI ingin memperluas kiprah dan memberikan pelayanan pembinaan yang lebih jelas kepada masyarakat.

Menurutnya, ranting-ranting yang selama ini belum aktif perlu kembali dihidupkan sehingga keberadaan INKAI di tengah masyarakat semakin jelas dan mudah dikenali.

“Kalau kita ingin melebarkan sayap lebih jauh lagi, ranting-ranting yang mungkin saat ini belum aktif harus kita aktifkan kembali. Supaya ketika kita menawarkan atau memperkenalkan INKAI kepada masyarakat itu jelas. Orang tidak ragu apakah ini organisasi yang jelas atau bukan,” ujar Heriyadi.

Ia menilai kejelasan organisasi menjadi semakin penting di tengah masyarakat saat ini. Legalitas, struktur kepengurusan, kegiatan dan program pembinaan harus dapat ditunjukkan secara nyata sehingga masyarakat memiliki kepercayaan untuk bergabung.

Heriyadi menegaskan bahwa pengembangan INKAI tidak hanya berorientasi pada bertambahnya jumlah anggota. Hal yang lebih penting adalah memastikan pembinaan berjalan secara terarah dan menghasilkan karateka yang memiliki kemampuan serta prestasi.

Ia berharap dari Kota Pontianak kembali lahir atlet-atlet karate yang mampu bersaing di tingkat nasional.

“Dalam pembinaan, kita berharap dari Pontianak lahir atlet nasional yang selama ini kita rindukan. Karena itu, pembinaan harus kita perkuat,” katanya.

Untuk mendukung target tersebut, INKAI Kota Pontianak akan menyusun berbagai program, termasuk pelatihan yang dilaksanakan secara berkala.

Pelatihan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan teknik karateka, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah mental, disiplin dan kesiapan menghadapi kompetisi.

Heriyadi juga membuka peluang penyelenggaraan kegiatan pada akhir pekan serta kejuaraan sebagai bagian dari proses pembinaan.

“Bila perlu kita buat program pelatihan pada akhir pekan. Kemudian ada kejuaraan-kejuaraan untuk mengasah keterampilan dan pengalaman para atlet,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua INKAI Kota Pontianak, Kadar Usman, S.E., mengatakan pembenahan sistem pembinaan akan dimulai dari peningkatan kualitas pelatih.

Menurutnya, pelatih merupakan salah satu faktor penting dalam memastikan program pembinaan di setiap ranting berjalan dengan standar yang sama.

“Secara garis besar, kita sebenarnya sudah merencanakan untuk melatih pelatih terlebih dahulu. Pembenahan dimulai dari pelatih, baru kemudian turun ke bawah,” jelas Kadar.

Setelah peningkatan kapasitas pelatih, program akan diterapkan secara berkelanjutan kepada karateka di berbagai ranting.

Latihan bersama akan menjadi salah satu bagian dari upaya menyamakan kualitas pembinaan.

“Mulai dari latihan bersama, dari sabuk putih sampai sabuk hitam. Kemudian untuk tingkat cokelat dan hitam akan ada latihan tersendiri,” tambahnya.

Menurut Kadar, pola tersebut diperlukan agar pembinaan tidak bersifat sementara atau hanya dilakukan ketika menjelang kejuaraan.

INKAI Kota Pontianak juga akan menerapkan sistem pembinaan berdasarkan kemampuan dan tujuan masing-masing peserta.

Kadar menjelaskan, tidak semua karateka memiliki tujuan yang sama. Ada yang mengikuti karate untuk pendidikan dan pembentukan karakter, ada yang bertujuan menguasai bela diri, sementara sebagian lainnya memiliki potensi untuk diarahkan menjadi atlet prestasi.

Karena itu, program pembinaan tidak dapat disamakan untuk seluruh peserta.

“Program pendidikan yang mengikuti karate itu kan berbeda. Ada yang ingin olahraga, ada yang ingin prestasi, ada yang ingin bela diri. Itu nanti kita sesuaikan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa karateka yang memiliki potensi prestasi akan mendapatkan pola pembinaan yang berbeda.

“Kalau kita samakan semuanya, nanti tidak dapat. Yang punya potensi untuk prestasi harus kita bina secara khusus,” katanya.

Selain pembinaan umum, INKAI Kota Pontianak juga menyiapkan konsep pemusatan bagi atlet yang telah menunjukkan prestasi dan memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh.

Atlet yang masuk dalam kelompok prestasi akan mendapatkan materi dan program latihan yang lebih spesifik dibandingkan peserta yang mengikuti karate untuk olahraga atau bela diri.

Pemusatan tersebut diharapkan dapat menjadi tempat untuk mempersiapkan atlet menghadapi kompetisi tingkat daerah, nasional hingga jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Kadar, pembinaan atlet berprestasi membutuhkan proses panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan.

Karena itu, INKAI akan berusaha membangun sistem pembinaan dari tingkat dasar hingga tingkat prestasi.

“Yang kita harapkan bukan program jangka pendek. Kita ingin membuat pembinaan yang berkelanjutan sehingga kepercayaan masyarakat terhadap INKAI semakin bertambah,” jelasnya.

Pengaktifan kembali ranting juga menjadi bagian penting dari strategi organisasi.

Dengan ranting yang aktif, masyarakat akan lebih mudah mengakses kegiatan latihan dan pembinaan karate tanpa harus terpusat di satu lokasi.

Selain memperluas jangkauan organisasi, keberadaan ranting juga diharapkan menjadi tempat pencarian bibit-bibit baru.

Dari ranting inilah karateka potensial akan diseleksi dan diarahkan menuju program pembinaan prestasi.

Konsep tersebut membuat pembinaan tidak hanya berfokus kepada atlet yang sudah berprestasi, tetapi juga membuka kesempatan bagi anak-anak dan generasi muda yang baru mengenal karate untuk berkembang sesuai kemampuan.

INKAI Kota Pontianak menyadari bahwa perkembangan olahraga karate juga melibatkan banyak perguruan dan organisasi lain.

Kadar mengatakan keberadaan perguruan karate lainnya bukan menjadi alasan untuk membangun persaingan yang tidak sehat.

Sebaliknya, seluruh organisasi dapat saling bersinergi dalam mengembangkan olahraga karate di Kalimantan Barat.

“Walaupun kita bermitra dengan perguruan lain, seperti KKI dan lainnya, kita tetap bersaing dalam prestasi tetapi tampil bersahabat,” katanya.

Menurutnya, pengembangan karate membutuhkan kerja bersama. Setiap organisasi memiliki tanggung jawab untuk membangun atlet dan memperluas pembinaan di wilayah masing-masing.

Dengan pembenahan struktur organisasi, pengaktifan ranting, peningkatan kualitas pelatih, latihan berjenjang, pemusatan atlet potensial serta penyelenggaraan kejuaraan, INKAI Kota Pontianak ingin membangun sistem pembinaan yang lebih terukur.

Target akhirnya bukan hanya meningkatkan jumlah anggota, tetapi melahirkan atlet yang mampu membawa nama Pontianak dan Kalimantan Barat pada level yang lebih tinggi.

Pembinaan yang konsisten dinilai menjadi kunci. Sebab, prestasi olahraga tidak dapat dibangun hanya melalui latihan menjelang pertandingan.

INKAI Kota Pontianak berharap pembenahan tersebut dapat menjadi titik awal untuk membangun kembali kekuatan karate daerah sekaligus membuka peluang bagi lahirnya generasi baru karateka yang mampu berprestasi di tingkat nasional.( Novi) 

0 Komentar