![]() |
| Caption. Foto bersama seminar dan festival Lanskap lestari di selenggarakan oleh |
Pesan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif 4F, Tirza Pandelaki, dalam sambutan pembukaan kegiatan Seminar dan Festival Lanskap Lestari yang mempertemukan berbagai unsur, mulai dari BRIN, Universitas Tanjungpura,
pemerintah daerah, peneliti, akademisi, petani, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil hingga sektor swasta.
Dalam sambutannya, Tirza mengatakan bahwa hutan, tanah, pangan, kebudayaan dan penghidupan masyarakat tidak dapat dipandang sebagai hal yang berdiri sendiri.
Menurutnya, seluruh aspek tersebut berada dalam satu kesatuan lanskap dan memiliki keterkaitan satu sama lain.
“Bagi 4F, kegiatan hari ini berangkat dari satu pemahaman sederhana: hutan, tanah, pangan, kebudayaan, dan penghidupan masyarakat tidak berdiri sendiri.
Semuanya berada dalam satu lanskap dan saling berkaitan,” ujarnya.
Ia menilai pemahaman terhadap lanskap tidak cukup hanya melalui penelitian dan data ilmiah. Pengetahuan serta pengalaman masyarakat yang selama ini hidup dan mengelola lanskap juga harus menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Karena itu, Seminar Lanskap Lestari diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman masyarakat di lapangan.
“Kita ingin hasil penelitian dan kajian yang dipaparkan tidak berhenti sebagai laporan atau pengetahuan di ruang akademik. Kita ingin mendiskusikannya bersama: apa artinya bagi masyarakat, apa yang relevan dengan kondisi di lapangan, dan apa yang dapat kita lakukan bersama setelah ini,” katanya.
Menurut Tirza, masing-masing pihak memiliki peran dalam membangun pengelolaan lanskap yang berkelanjutan. Pemerintah memiliki kebijakan dan kewenangan, perguruan tinggi serta lembaga penelitian memiliki pengetahuan, sementara masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal.
Di sisi lain, organisasi masyarakat sipil dan sektor swasta dinilai dapat membantu membangun dukungan serta memperluas berbagai praktik baik di tengah masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa masyarakat adat, komunitas lokal dan petani tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi merupakan sumber pengetahuan sekaligus mitra yang setara dalam pengelolaan lanskap.
“Tidak ada satu pihak yang dapat menyelesaikan persoalan lanskap sendirian,” tegasnya.
Tirza berharap seminar tersebut tidak sekadar menjadi forum untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ruang untuk saling mendengar, menguji pengetahuan dan membangun langkah bersama yang dapat diterapkan di tingkat tapak.
Sementara itu, melalui Festival Lanskap Lestari, 4F ingin memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya berperan sebagai penjaga lanskap. Masyarakat juga memiliki pengetahuan, produk, budaya serta potensi ekonomi yang tumbuh dari lingkungan dan lanskap tempat mereka hidup.
“Menjaga lanskap dan meningkatkan penghidupan masyarakat bukanlah dua agenda yang harus dipertentangkan. Keduanya harus dapat berjalan bersama,” kata Tirza.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kolaborasi antarpihak in dan melahirkan berbagai gagasan yang tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tingkat lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, 4F juga menyampaikan apresiasi kepada BRIN, Universitas Tanjungpura, pemerintah, para peneliti, masyarakat, petani, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Seminar dan Festival Lanskap Lestari.
Novi

0 Komentar